Archive for April, 2005
BOM
Monday, April 4th, 2005
Hari ini pulang cepet, tadi ada telpon gelap yg bilangin kalo di kantor gw ada bom (paling kerjaan orang2 yg minta proyek Pemda tapi ga dikasih). Semua pegawai disuruh turun, gile aja lift cuma 2 jadinya antri. Sebagian pada turun lewat tangga (males bgt 6 lantai lewat tangga!). Pas sampe bawah nongkrong diparkiran, lumayan sekitar 1 jam. Setelah keadaan dinyatakan aman, semua disuruh naek lagi. Eh bos gw pulang, ya udah gw ama temen2 ikut pulang aja ![]()
Sempet timbul ide dari temen2 kalo misalnya mau pulang cepet lg tinggal telpon operator aja bilangin kalo ada bom ![]()
Udah ah mo mandi….
SMS
Friday, April 1st, 2005
Gw pernah baca tulisan FX. Bambang Irawan disebuah majalah. Katanya sms diyakini lahir 14 tahun lalu, tepatnya 3 Desember 1992. Ketika itu Neil Papworth dari Sema Plc (sekarang unit dari Schlumberger Limited) menggunakan komputernya untuk mengirim pesan ke ponsel Richard Jarvis yang kemudian menjadi direktur di operator terkenal, Vodavone.
Sekarang siapa coba pengguna ponsel yang belum pernah mencoba layanan sms? (Mom-nya ombak!
). Interoperabilitas memang pemicu maraknya sms. Indonesia baru memperoleh kesepakatan antar operator pada Mei 2001, sementara sms lintas operator di Amerika Serikat baru menyusul setahun kemudian.
Masyarakat Asia Tenggara bisa menyombongkan diri kepada masyarakat Amerika karena mayoritas pengguna ponsel di Asia Tenggara sudah bisa lintas operator sesama GSM maupun CDMA.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Siemens, Indonesia menduduki rangking tertinggi, 58% kalangan muda usia 15-19 tahun lebih suka sms-an dari pada membaca buku. Masih pada survei yang sama, 40% orang Indonesia jantungnya akan berdebar lebih cepat ketika mendengar dering sms. Dan secara refleks 62% orang Indonesia akan memeriksa ponsel mereka ketika nada dering sms orang lain berbunyi.
Gw termasuk maniak sms, pulsa Rp. 200.000,- tiap bulan nyaris cuma untuk sms aja (90% sms untuk ombak, 10% sms untuk gebetan
). Jarang banget buat nelpon kecuali ada urusan yang penting. Pernah gw baca di harian Kompas, dari 3.571 kantor pos di Indonesia, hampir 3.000 kantor pos merugi akibat efek sms, bertolak belakang dengan pesta pora para operator ponsel. Tau sendiri kan dulu kalo lebaran, kartu ucapan menumpuk tapi sekarang orang lebih memilih ber-sms-an.
Malah sekarang lagi trend acara tv yang menggunakan poling sms dari para pemirsanya. Contoh pada acara Indonesia Idol, disaat grand final tercatat ada 4 juta sms untuk Joy dan Delon (4 juta x 2.000 = 8 M). Padahal jika dihitung-hitung, mungkin hadiahnya tak seberapa dibandingkan dengan pulsa yang dikeluarkan untuk sms itu. Atau malah nombok! ![]()
Apa yg dapat kita petik dari wabah sms ini? Mungkin ini zaman saat kebudayaan bertekuk lutut kepada teknologi?