Sebuah Sajak Untuk Kekasihku
Thursday, March 31st, 2005
lelakiku,
kami menyebutnya cinta, kami bercinta walau tidak lama pada sebuah kota asing yang entah kenapa harus berada disana.
Bilangnya kami saling cinta tapi apa itu cinta kami tidak pernah mendefinisikan dalam kata hanya luapan perasaaan yang saling mengalir bening, manis, lugu, walau kadang rancu.
Ah memang kita belum ada ketika cinta diciptakan, hanya mendengar, mengetahui, menyamakan persepsi, perasaan, pengalaman, luapan hati dan emosi kemudian ikut bilang itu cinta.
Tapi cinta kita sederhana saja seperti nyanyi, seperti hembusan angin yang menggelitik telinga, seperti matahari yang bersinar dipagi hari ya sederhana saja, tiba tiba dan mengetarkan.. seperti getar pada telepon genggam ketika menerima telepon atau sms.
lelakiku,
Padanya kuserahkan hatiku,kuberikan tubuhku sebagai pemujaan atas getar nafsuku dan gelombang cintaku tanpa kata pembuka, mukadimah hanya tubuh yang menggeletar ketika ia menyentuhku
entah dengan tangannya, bibirnya atau.. entah apalagi…
sebuah puisi untuk kekasihku yang jauh sebuah luapan keinginan tubuh dan gerakan hati ketika rindu cuma bisa ditulis dan kangen disuarakan
tanpa disentuh dan menyentuh tubuh hanya lewat getaran hati yang disambung kabel entah bagaimana caranya
lelakiku,
Pada bulan, pada bintang, pada matahari kami menyamakan diri, menyatukan diri pada langit biru, pada langit kelam, pada langit pagi, pada mendung, pada hujan, pada gerimis dan pada angin.
Apa itu cinta sayang?
kami tidak pernah banyak mencoba mencari definisinya, hanya mencoba menafsirkan, mengejawantahkan perasaan yang mengalir, meluap, membanjir, menyembur dan bilang tiap hari lewat kata dalam tulisan saja ” Ilove U “
Ah, kekasihku yang jauh.. aku cuma ingin membuatkanmu puisi sederhana
terlalu sederhana dengan kata kata biasa dan mencoba mengakrabinya lewat apa saja yang kita punya Bukan puisi maestro seperti calz dengan hijau kelonte-lonteannya yang mengendap dihatiku, dipikiranku ketika membacanya untuk pertama kalinya.
lelakiku,
Keindahanmu adalah pada cintamu padaku bukan pada apa apa.. hanya pada kesederhanaan hatimu padaku dan aku padamu bukan pada tetek bengek memusingkan yang aku enggan membicarakannya walau sering memikirkannya.
Kekuatanmu adalah kesetiaanmu pada wujudku pada kerealitasan yang walau getas karena abstraksi jarak yang dijembatani kata;
dimana memang kita harus berterimakasih pada kata-kata
karena merekalah yang menyatukan, menyampaikan, menyadarkan, menyingkapkan, menyuarakan cinta kita yangs ekali lagi tak kutahu apa artinya kecuali merasakannya kadang dengan tawa dan gelak,atau tangisan dan air mata, atau amarah dan kecemburuan entah pada kota yang bisa menemuimu setiap hari atau tuts tuts yang kau sentuh setiap kali atu angin yang membelai tubuhmu di hari harimu daat jauh dariku, atau pada matahari, bintang, bulan,l angit dan semua yang menggapaimu dengan sinar dan warna setiap hari tapi tidak diriku yang jauh.
Kulupakan temaram lampu waktu lalu sayang aku hanya ingin mengingatmu
ketika matahari menerobos lewat kaca kamardan kita tertawa tanpa saling menyentuhdan menatap tapi tidak pernah berciuman hingga temaram malam membuat kita terlena dan kita meninggalkan anak anak kita disana
tanpa pernah mempersilahkan mereka bertemu lalu tangisan dan kecupan … usai dalam kebimbangan dan kemarahan yang sama membingungkannya dengan apa yang terjadi
lelakiku,
dua kali tiga puluh hari ditambah empat hari ketika kutulis coretan ini adalah kebersamaan yang kita miliki walau penuh abstraksi kucintai engkau lelakiku, kekasihku dengan kerelaanku, hatiku, tubuhku, pikiranku, kehendakku, emosiku, kesedihan, keriaan, kemarahan, kecemburuan dan
kepemilikan yang tidak berhenti berputar dalam diriku sampai detik aku menulis ini.
Kutulis sajak untuk lelakiku,kekasihku yang jauh tidak ketika gerimis turun tapi ditengah suara air dari kran kamar mandi yang mengucur deras dan suara burung hijau yang sekali lagi seperti kata Calz.. hijau kelonte lontean.
Tinggalkan Jejak